Senin, 24 September 2018








TIME OUT

"Untuk Anak atau Orangtua”?



Pengalaman memberikan pelajaran kepada saya bahwa mengasuh anak ternyata adalah sebuah undangan berserah diri untuk melangkah ke tahap kesadaran berikutnya. Belajar berserah diri secara alami dalam kehidupan bersama anak-anak benar-benar membutuhkan waktu dan pembiasaan yang banyak tantangan. Jika ada yang mengatakan mengasuh anak itu mudah, saya justru khawatir. Bisa saja dianggap mudah jika orangtua fokus pada dirinya sendiri. Pokoknya pakai parenting teori A dan teori B yang penting anak patuh pada instruksi orangtua. Wah, tetapi anak bukanlah boneka atau robot. Di balik fisiknya yang tampak lebih kecil atau lebih muda usianya daripada kita, hakikatnya adalah jiwa. Jiwa yang kemudian mengejawantah pada personality dengan segala wataknya, misinya dan tujuan hidupnya sendiri.  

Anak-anak tidak jarang menguji kesabaran kita terlebih lagi di usia remaja. Di usia pancaroba ini masalah orangtua bukan lagi soal menunggu mereka menghabiskan makanannya atau menyelesaikan PR-nya, tetapi malah menunggu giliran, seolah dalam antrian panjang di belakang teman-temannya untuk dapat berbicara dengan mereka. Mengizinkan kesabaran bertumbuh dengan baik memiliki tantangan lebih dari sekedar merespon kebutuhan fisik anak. Ketika perilaku anak mengundang kesabaran kita, inilah  kesempatan kita untuk berserah diri terhadap "waktu kini” (present moment), maka berarti  saatnya mengesampingkan agenda pribadi kita dan melupakan tuntutan-tuntutan ego. Dengan demikian kita dapat menghargai "waktu kini" secara lebih utuh dikala peristiwa yang sama menimpa kita sendiri di lain waktu. 

Pelajarannya adalah bahwa bertumbuh dalam kesabaran bagaikan menyusuri jalan setapak kelana spiritual seraya menuntun anak-anak ditangan yang satu dan satu tangan lagi menuntun diriku sendiri. Memang ada masa kita tidak ada waktu untuk bersabar, kita terlalu sibuk dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Kita ingin semua berjalan tepat waktu. Di lain sisi kita ingin menunjukkan kepada dunia sayalah orangtua yang bijak. Namun sampai kapan kita bertahan dengan keinginan ini. Adakah rentang waktu yang panjang tanpa batas dalam kehidupan ini.

Jika anak-anak tidak mengikuti agenda, hendaknya kita tetap bersikap bijaksana, dan mengingatkan diri bahwa mereka belum saatnya untuk melakukannya, sebab mungkin mereka lahir ke dunia bukan untuk itu, bukan yang seperti kita inginkan. Dalam situasi demikian, kita bisa mempertimbangkan kembali mungkin merubah agenda daripada memaksa mereka mengikuti rencana yang kita inginkan.

Ketika anak benar-benar sulit ditangani dan Anda benar-benar sudah kehilangan kesabaran ini artinya panggilan bagi Anda untuk melakukan perjalanan ke dalam diri dan tanyakan dalam hati: "Kenapa saya terpancing? Kenapa saya merasa tidak bahagia dengan anak ini? Mengapa sikapnya mengganggu batin saya? Tenangkanlah pikiran dan hatimu dengan mengatur nafas secara halus. Lembutkan jiwamu hinga menyadari dan berkata pada dirimu sayalah yang membutuhkan pertolongan, bukan anak saya”. Lakukan evaluasi diri, jedalah sesaat, duduk hening hingga merasa tenteram. Kedamaian akan lebih mudah dirasakan ketika tubuh relaks, pikiran jernih dan hati bersih. 

Serangkaian refleksi membangunkan kesadaranku bahwa dalam menikmati kekinian yang lebih panjang bersama anak-anak merupakan waktu yang sangat berharga dan menyadarkan saya bahwa saya bernilai demikian pula anak-anak. Secara alami ‘irama anak” sejatinya lebih dekat dengan irama jiwa. Izinkan jiwa kita untuk hadir bersama jiwa mereka. Bersama mereka tatalah kembali pola hidup Anda. Ingatlah akan tiba saatnya  Anda merasakan waktu begitu cepat berlalu. Bisa jadi ini suatu panggilan untuk Anda menjalani kehidupan secara lebih spiritual. 

Saya orangtua pelopor perdamaian, mengajak Anda untuk bergabung bersama saya. 

~ Rani Anggraeni Dewi, MA, MCHT
(inisiator Gerakan Orangtua Pelopor Perdamaian)

Minggu, 03 Juni 2018

SCHOOL OF HAPPINESS

  
Mindful Living II

“KOMUNIKASI WELAS ASIH”

(Workshop Angkatan ke-VI)


Salam damai sahabat,

“Mendengar dengan hati sebagai bagian dari seorang yang peduli adalah suatu hadiah yang tak ternilai. Merefleksikan perasaan menyebabkan orang lain dapat merasa diterima, dikasihi, dihargai, aman dan bernilai. Sehingga terciptalah hubungan antar pribadi yang lebih harmonis”.

Dunia ini adalah apa yang telah kita buat dengannya. Bagaimana sikap kita menjalani hidup di dunia ini? Jika kita mengubah diri kita, kita dapat mengubah dunia. Mengubah diri kita dimulai dengan mengubah gaya bahasa kita serta metode komunikasi yang digunakan (Arun Gandhi, “Non Violence Communication” by Marshall B Rosenberg). Keluarga merupakan wadah yang pertama untuk membangun komunikasi welas asih dalam diri.

Melalui workshop ini, kami mengajak Anda membangun keluarga harmonis melalui komunikasi yang harmonis pula serta membantu kerabat kita untuk mampu membuat keputusan hidupnya secara mandiri namun tetap saling terhubung dengan sikap-sikap yang penuh welas asih.


Testimoni dari peserta yang telah mengikuti
Workshop Mindful Living:


“Metode yang menarik dalam menyelami latar belakang persoalan. Senang sekali mendapatkan metode dalam membedakan citra dan jiwa” (M. Nur Jabir).

“Mendapatkan dan merasakan kejutan-kejutan dalam diri. Menyenangkan tak mampu diungkapkan” (Fitria Laurent).

“Selalu ada pengalaman baru. Nothing to say, but happy” (Eka Satria Zamani).



WAKTU & TEMPAT:
Jumat, 13 Juli 2018
Jam 08.30 - 18.00 WIB
Roosseno Plaza
(Ruang Cinema Room lt.2)
Jl. Kemang Utara 1A No.12 Kemang, Bangka - Jakarta Selatan 12730
(seberang McDonald Kemang)


TOPIK:
1.    MENDENGAR DENGAN HATI
2.    MENGGALI INFO YANG TERSEMBUNYI
3.    KOMUNIKASI HARMONIS
4.    MINDFUL LIVING THERAPY - MEDITATION


TARGET PESERTA:
Pendidik, Guru, Orang Tua, Aktivis LSM, Terapis, Konselor, Coach, dan siapa saja yang berminat.


BERSAMA:
RANI ANGGRAENI DEWI, M.A.
Perempuan kelahiran Jakarta 27 Oktober 1957 saat ini aktif sebagai Accredited Trainer Living Values Indonesia, Mindful Living Therapist, dan Couples Relationship Therapist. Sebagian karya yang ditulisnya adalah buku “Menjadi Manusia Holistik” (2007) dan salah satu kontributor buku “Reinventing Indonesia” (2008) serta buku “9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak” (2015). Karyanya yang lain adalah membuat film dokumenter yang berjudul “Searching for I”, sebuah kisah perjalanan pencarian diri sejati dan kebahagiaan.


DONASI:
Rp. 1.250.000,-/ 1 hari (seminar kit, lunch, coffee break, certificate, tempat workshop yang nyaman).
Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri
Acc: 1260005338610

a.n: Yayasan Indonesia Bahagia


INFORMASI LEBIH LANJUT DAN PENDAFTARAN:
NISA (0813.1979.3978)


Pastikan Anda tidak tertinggal informasi dan kesempatan yang berharga ini. Tempat terbatas, maksimal 10 peserta!

Selasa, 01 Mei 2018

LUNCH BOX



Hasil gambar untuk film lunch box
Ulasan kisah film “LUNCH BOX”


 Tulisan saya ini mengulas kisah romantika perkawinan pasangan India dari film yang berjudul "Lunch Box", film India yang menarik paling tidak bagi saya dan beberapa kawan. Ulasan kisah “Lunch Box” atau saya terjemahkan secara bebas "Rantang Kebahagiaan" ini saya analisa menurut Psikologi Perkawinan dan Spiritualitas.


RANTANG KEBAHAGIAAN

Ada yang menggelitik dalam benak saya tentang film ini. Simbol-simbol yang disuguhkan sangat abstrak meskipun nampak sangat nyata bagi saya apa masalah dibalik simbol-simbol itu. Kekayaan simbol dalam film ini akan menuntun penonton menginterpretasikan simbol-simbol tersebut secara bebas.

Soal rantang yang kesasar itu ada buntutnya, lagi-lagi kisah cinta. Saya mencoba mendekati film ini dengan cara sederhana karena begitu nampak jelas dalam film ini, suatu polemik tentang kehidupan dua rumah tangga yang berisi kesunyian dan kesepian. Kesunyian Fernandes sang duda dan kesepian seorang istri, bernama Illa.

Illa sadar hati suaminya sudah tidak bersamanya lagi. Illa tak lagi menjadi seorang permaisuri di hati suaminya. Tak ada lagi percakapan yang hangat meskipun Illa selalu mencoba untuk menghangatkan percakapan. Suami Illa seolah dingin membisu, kaku, dan membeku sebab percakapan dan sentuhan hangat dari Illa tak lagi berarti. Seketika Illa menyadarinya dan tersungkur dalam lembah kehampaan dan kesunyian. Karena tak ada lagi yang mampu mengubah keadaan di saat cinta telah kehilangan maknanya. Pasrah dalam kesunyian satu-satunya tempat pelarian terindah dalam penderitaan.

Di tempat yang berbeda, Fernandes sudah sejak lama berada dalam kesendirian. Istri tercinta sudah "pergi pulang" lebih dulu. Sejak saat itu, Fernandes telah kehilangan senyum dan tawa lirihnya.

Kisah ini bermula ketika Illa dan Fernandes dipertemukan akibat dilanda kesunyian dan kesepian oleh Rantang Kebahagiaan di alam imajinasi. Seorang istri, bernama Illa berada di sudut kesepian. Suami sibuk bekerja dan terjebak dalam cinta yang gelap. Setiap hari Illa selalu berusaha merenggut hati suaminya. Ia selalu bersemangat menyediakan makan siang untuk suaminya dan mengemas makanan tersebut dengan cinta dalam Rantang Kebahagiaan. Petugas pengantar rantang selalu tepat waktu menjemput rantang tersebut untuk diantarkan ke tempat suaminya bekerja.

Tapi takdir berkata lain, meskipun agen pembawa rantang bekerja sangat profesional, namun kemungkinan kesalahan bisa saja terjadi. Ternyata rantang makanan siang suaminya tak sampai di atas meja kerja suaminya.

Apa ini kebetulan? Sepengetahuan saya, tak ada peristiwa kebetulan yang terjadi di alam ini. Alam telah mengatur semuanya, siapa ketemu siapa dan apa ketemu apa. Alam ini selalu merespon apa yang kita pikirkan dan rasakan, dan energi yang paling kuat adalah saat manusia memiliki harapan yang tinggi atau kegalauan yang tinggi di lain waktu.

Jadi tak heran mengapa rantang itu sampai ke meja Fernandes. Semesta merespon kegalauan Fernandes disebabkan mendekati masa pensiun dan hidup dalam kesendirian. Setiap malam Fernandes menyelami kesepian dan kesunyiannya dalam kesendirian. Tentu bukan perpaduan yang elok antara pensiun dan kesepian.

Intinya ada dua orang yang beresonansi secara metafisik dan alam pun membantu mempertemukannya dengan caranya sendiri. Jadi meskipun rantang itu secara fisik salah alamat tapi secara metafisik rantang itu tidak salah, sebab alam sedang merespon dan mendekatkan dua orang yang galau.

Jadi apa sesungguhnya yang terjadi pada Illa? Rumah tangga Illa sedang retak. Mungkin “bunga Mawar” cinta tak bersemi lagi di dalam rumahnya. Tak ditemukan lagi kebersamaan apalagi kehangatan.

Berkaca dari studi-studi psikologi perkawinan, umumnya, perkawinan dimaknai sebagai sarana untuk menemukan kebahagiaan. Padahal filosofi perkawinan bukan itu. Perkawinan bukan untuk mencari kebahagiaan.

Perkawinan adalah satu institusi atau wadah dimana dua orang, perempuan dan laki-laki, bergabung, memikat janji, atau mendirikan sebuah ikatan dalam pernikahan resmi untuk berbagi kebahagiaan yang telah ada di dalam dirinya sebagai anugerah. Jadi tak heran kalau banyak pasangan yang menjalani ‘unconscious marriage’, karena mereka menikah untuk tujuan mendapatkan kebahagiaan. Oleh sebab itu, menikah bukan untuk mencari kebahagiaan karena sejatinya manusia terlahir sudah membawa kebahagiaan. Sehingga dalam hidup bersama setiap individu diharapkan dapat saling berbagi kebahagiaan.

Di lain sisi ketika dua orang menikah, suami dan istri tanpa disadari membawa hidden agenda yaitu ingin menyembuhkan luka hati di masa kanak-kanak akibat dari kebutuhan atau keinginan yang tidak terpenuhi semasa kanak-kanak dari tokoh pengasuhnya (orang tua), di antara kebutuhan tersebut antara lain; kebutuhan untuk dibelai, dipeluk, dilayani, disayangi, dicintai, dan dipahami serta diperhatikan.

Mereka berharap akan mendapatkannya dari teman hidupnya. Kebutuhan ini tersimpan di dalam bawah sadar sekian lamanya. Ketika seseorang tidak mendapatkannya, dia akan merasa kosong, hampa, dan tidak bahagia. Lalu bagaimana dengan Fernandes? Pensiun sudah dekat dan akan dilewatinya dalam kesendirian dengan rasa sunyi. Dia terlihat tidak siap terbukti ketika bosnya memperkenalkan calon penggantinya. Ia kerap menunjukkan sikap tak bersahabat kepadanya. Bahkan tidak siap memberikan tugas pada calon penggantinya kelak.

Namun berkat Rantang Kebahagiaan yang salah alamat itu, hidup Fernandes berubah. Setiap siangnya adalah siang yang ditunggu-tunggu. Hatinya berdebar-debar bergelora setiap kali berada di depan rantang makan siangnya. Keceriaan selalu nampak di wajahnya. Adrenalin naik dan hal tersebut memberikan motivasi, energi, serta keceriaan di wajahnya. Karena dalam rantang itu ada kebahagiaan dalam bentuk surat. Surat itu adalah coretan keindahan jiwa Illa, sederhana namun mampu menghapus dahaga kerinduan.

Kebahagiaan sudah ada di dalam diri setiap manusia. Namun perlu pemantik agar kebahagiaan tersebut teraktualisasi di dalam diri. Pemantik itu bisa dari lingkungan, orang lain, pasangan, dalam bentuk sikap dan perbuatan serta perilaku yang ditunjukkan sebagai manifestasi kebahagiaan.

Hingga suatu saat, Fernandes dan Illa sudah saling merindu untuk bertemu. Saling berbagi keresahan melalui surat menyurat sudah tak mampu menghilangkan dahaga gelora kerinduan. Akhirnya mereka berdua bertemu di suatu restoran dekat stasiun kereta api. Namun apa yang terjadi? Klimaks film ini karena pertemuan tidak terjadi meskipun mereka berdua tiba tepat waktu di restoran tersebut.

Saat pertama kali melihat wajah Illa di restoran itu, Fernandes hanya mampu duduk berdiam diri di sudut restoran sambil memandang wajah Illa dari kejauhan. Keindahan wajah Illa dengan usia semuda itu akhirnya mengurungkan langkah Fernandes untuk menyapanya. Fernandes menyadari usianya jauh di atas usia Illa. Seolah Fernandes tak ingin mengubah imajinasi Illa tentang dirinya. Ia mampu mengendalikan dirinya dalam gelora asmara yang hampir tak mungkin dibendung. Fernandes berhasil tidak menghampirinya.

Kejadian kemarin memaksa Fernandes harus menerima rantang kosong dari Illa keesokan harinya. Di sini lagi-lagi seorang manusia menunjukkan ketidakbahagiaan dan menggantungkan harapan pada orang lain. Akhirnya keduanya tak pernah bertemu langsung secara fisik dan masing-masing memilih jalan sendiri dalam meraih kebahagiaan. Illa pergi ke Bhutan dan Fernandes pergi ke Nasik, kota dimana Fernandes dibesarkan.

Menjelang akhir film, Illa masih mengharapkan pertemuan dalam ungkapan sebuah kalimat, “kereta yang salah dapat mengantarkanmu menuju stasiun yang benar”. Illa sedang mengandaikan dirinya dengan rantangnya. Tak apa menjalani sesuatu yang salah, toh pada akhirnya akan membawa kita pada tujuan yang sama, yakni meraih kebahagiaan.

Rantang sebagaimana kereta hanyalah media yang dikirimkan alam agar mereka menemukan kebahagiaan di dalam dirinya. Sebab setiap manusia telah dibekali kebahagiaan yang menyatu di dalam dirinya. Bahkan manusia adalah kebahagiaan itu sendiri. Manusia dan kebahagiaan bukan dua entitas yang terpisah. Ketika seorang manusia menyadari siapa dirinya, maka kesendirian bukanlah masalah.


~ Rani Anggraeni Dewi ~
Couple Relationship Therapist

Minggu, 11 Maret 2018


MINDFUL LIVING
“BERDAMAI DENGAN DIRI”

Senin, 26 Maret 2018
08.30 – 18.00 wib



Salam damai sahabat,

Di tengah derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diasumsikan mengakibatkan melunturnya nilai-nilai moral kemanusiaan, ditandai misalnya dengan maraknya berbagai kasus kekerasan. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sering berbeda pandangan hidup dan kebiasaan dengan orang lain, yang berpotensi timbulnya konflik dalam hubungan antar-pribadi bahkan antara suami-istri, orangtua-anak, antara saudara kandung. Kehidupan modern yang memberikan berbagai kemudahan sering membuat manusia merasa jenuh dan kemudian mempertanyakan tujuan-tujuan hidupnya.


Kami percaya, sesungguhnya hidup adalah “Anugerah Emas”, jika manusia dapat memaknainya dengan menjalani hidup secara sadar jiwa sehingga fokus pada tujuan-tujuan hidupnya yang lebih luhur. Inilah yang kami sebut Mindful Living. Lalu bagaimana menjalani hidup dengan Mindful? Tidak jarang langkah-langkah seseorang dipengaruhi oleh kecemasan, kekhawatiran, serta pikiran-pikiran negatif. Lalu bagaimana akibatnya terhadap kualitas hidup dan kesehatan Anda?


Untuk menjawabnya, kami mengajak Anda mengikuti workshop selama 1 hari penuh, untuk mengenal dan mengkaji lebih dalam tentang Mindful Living. Dalam workshop ini Anda akan terlibat dalam suasana “mengalami" (Experiential Learning) serta menemukan tools pengendalian diri, dalam suasana yang interaktif dan menyenangkan. Dengan buah dari pengalaman pribadi ini, Anda pun siap menjadi agen perubahan dimulai dari dalam keluarga ke lingkungan yang lebih luas.


Workshop (Angkatan Ke-7)

TOPIK WORKSHOP:

1. MENGENAL KEKHAWATIRAN & KEPANIKAN DALAM DIRI.
2. MENGENAL KEMARAHAN DALAM DIRI.
3. MENINJAU ULANG KEYAKINAN DASAR.
4. MINDFUL LIVING THERAPY - MEDITATION


Tempat:
Roosseno Plaza - Kemang
Jl. Kemang Utara No. 1 Bangka, Kemang - Jakarta Selatan



FASILITATOR:
Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A., saat ini beliau aktif sebagai Lead Trainer Living Values Indonesia, Mindful Living Therapist, dan Marriage/ Couple Therapist. Sebagian karya yang ditulisnya adalah buku “Menjadi Manusia Holistik” (2007), salah satu kontributor buku “Reinventing Indonesia” (2008), dan buku “9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak” (2015). Karyanya yang lain adalah membuat film dokumenter yang berjudul “Searching for I”, sebuah kisah perjalanan pencarian diri sejati dan kebahagiaan. Sangat berminat pada kajian Agama-agama & Spiritualitas.



DONASI:
Rp.1.350.000, / 1 Hari (Seminar Kit, Sertifikat, Lunch, Coffee Break 2x, tempat workshop yang nyaman).



Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri
Acc: 1260005338610
a.n: Yayasan Indonesia Bahagia



INFORMASI LEBIH LANJUT DAN PENDAFTARAN:
NISA (0813.1979.3978)



Pastikan Anda tidak tertinggal informasi dan kesempatan yang berharga ini. Peserta terbatas, maksimal 10 orang!





Senin, 15 Januari 2018









MINDFUL LIVING
“BERDAMAI DENGAN DIRI”

Jumat, 9 Maret 2018
09.00 – 18.00 wib



Salam damai sahabat,

Di tengah derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diasumsikan mengakibatkan melunturnya nilai-nilai moral kemanusiaan, ditandai misalnya dengan maraknya berbagai kasus kekerasan. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sering berbeda pandangan hidup dan kebiasaan dengan orang lain, yang berpotensi timbulnya konflik dalam hubungan antar-pribadi bahkan antara suami-istri, orangtua-anak, antara saudara kandung. Kehidupan modern yang memberikan berbagai kemudahan sering membuat manusia merasa jenuh dan kemudian mempertanyakan tujuan-tujuan hidupnya.


Kami percaya, sesungguhnya hidup adalah “Anugerah Emas”, jika manusia dapat memaknainya dengan menjalani hidup secara sadar jiwa sehingga fokus pada tujuan-tujuan hidupnya yang lebih luhur. Inilah yang kami sebut Mindful Living. Lalu bagaimana menjalani hidup dengan Mindful? Tidak jarang langkah-langkah seseorang dipengaruhi oleh kecemasan, kekhawatiran, serta pikiran-pikiran negatif. Lalu bagaimana akibatnya terhadap kualitas hidup dan kesehatan Anda?


Untuk menjawabnya, kami mengajak Anda mengikuti workshop selama 1 hari penuh, untuk mengenal dan mengkaji lebih dalam tentang Mindful Living. Dalam workshop ini Anda akan terlibat dalam suasana “mengalami” (Experiential Learning) serta menemukan tools   pengendalian diri, dalam suasana yang interaktif dan menyenangkan. Dengan buah dari pengalaman pribadi ini, Anda pun siap menjadi agen perubahan dimulai dari dalam keluarga ke lingkungan yang lebih luas.


Testimoni dari peserta yang telah mengikuti
Workshop Mindful Living Therapy, a.l:

“Sungguh luar biasa sekali, saya sangat senang hari ini dapat mengenali core belief  saya, dan mempunyai solusi atau rules untuk merubah core belief  yang menurut saya mengganggu.”
(Agus H - Pengasuh Anak Yatim)

“Saya senang dapat mengenal berbagai macam (8) pola pikir terbatas. Saya dapat menganalisa kecemasan yang timbul dengan pola pikir tersebut sehingga dapat membantu saya agar tidak mudah cemas. Sangat bermanfaat, terima kasih”.
(Rina P. Dewi – Dokter)

“Saya menjadi sadar akan diri sendiri pada saat panic dan mengatasinya, sadar akan core belief yang berjalan dengan jalannya hidup saya dan sadar betapa pentingnya mengontrol kemarahan yang akan menjadikan damai hidup.”
(Agus T – Pengajar)


Workshop (Angkatan Ke-6)

TOPIK WORKSHOP:
1. MENGENDALIKAN KEKHAWATIRAN & KEPANIKAN DALAM DIRI.
2. MENGENDALIKAN KEMARAHAN.
3. MENINJAU ULANG KEYAKINAN DASAR.
4. MINDFUL LIVING THERAPY - MEDITATION


Tempat:
Three Folks
Jl. Cilandak Tengah Raya No. 14 Cilandak – Jakarta Selatan



FASILITATOR:
Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A., saat ini beliau aktif sebagai Lead Trainer Living Values Indonesia, Mindful Living Therapist, dan Marriage/ Couple Therapist. Sebagian karya yang ditulisnya adalah buku “Menjadi Manusia Holistik” (2007), salah satu kontributor buku “Reinventing Indonesia” (2008), dan buku “9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak” (2015). Karyanya yang lain adalah membuat film dokumenter yang berjudul “Searching for I”, sebuah kisah perjalanan pencarian diri sejati dan kebahagiaan. Sangat berminat pada kajian Agama-agama & Spiritualitas.



TARGET PESERTA:
Pendidik,  Guru,  Orang Tua,  Aktivis LSM,  Terapis/ Konselor,  Coach, dan siapa saja yang berminat.



DONASI:
Rp.1.250.000, / 1 Hari (Seminar Kit, Sertifikat, Lunch, Coffee Break 2x, tempat workshop yang nyaman).



Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri
Acc: 1260005338610
a.n: Yayasan Indonesia Bahagia



INFORMASI LEBIH LANJUT DAN PENDAFTARAN:
NISA (0813.1979.3978)



Pastikan Anda tidak tertinggal informasi dan kesempatan yang berharga ini. Peserta terbatas, maksimal 10 orang!