Minggu, 19 Mei 2019







GURU BATIN

Ketika kita menelusuri jalan hidup pribadi, tidak sedikit tantangan muncul, pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di dalam benak terutama pertanyaan eksistensial. Kemudian kita pasti membutuhkan jawaban. Kita lalu kerap kali mencari orang lain untuk mendapatkan jawaban. Tetapi jika berkaitan dengan kehidupan pribadi, sesungguhnya tak satu pun orang yang tahu apa yang terbaik untuk kita, kecuali kita sendiri. Sedari kecil, semasa usia sekolah, aku teringat diajarkan untuk mengikuti senior, orang yang lebih tua, mengacungkan tangan ketika mau bertanya, mendengar dan menerima begitu saja apa yang diajarkan kepadaku serta mengakui bahwa mereka lebih tahu.

Aku tahu bahwa aku memiliki intuisi seperti juga orang lain, tetapi tidak terlatih untuk percaya pada kemampuan intuisi sebagai alat bantu keterampilan hidup. Kerap kali dalam renungan aku bertanya dalam hati misalnya “Apakah ini jalan yang benar”, “Apakah ini untukku”, “Sepertinya aku mengambil keputusan yang salah”. Memang harus diakui aku cenderung mengambil langkah tanpa bimbingan orang lain walaupun menurutku tentu wajar saja mencari jawaban selain dari orangtua, dari para ahli seperti dokter, motivator, coach, konselor, guru yoga dan juga guru agama, bahkan guru spiritual. Di masa lalu aku membutuhkan seseorang untuk memotivasiku, mewujudkan mimpi-mimpiku, atau memberi peluang memperjuangkannnya sebelum aku melakukannya sendiri.

Aku merasa beruntung selama ini dapat bergaul dengan orang-orang pintar dibidangnya. Mereka menginspirasiku dan kemudian mengubah cara pandangku terhadap realitas sehingga terjadi perubahan berarti pada hidupku. Namun demikian tidak jarang aku terjebak pada sebuah harapan bahwa mereka memiliki semua jawaban atas apapun pertanyaanku. Ini adalah suatu pertanda ketergantungan. Di mana ada ketergantungan di sana ada kemelekatan. Tetapi lambat laun aku kerap kecewa ketika melihat sesuatu pada diri mereka yang aku anggap suatu kelemahan. Berkonsultasi kepada orang yang dianggap mumpuni dalam bidangnya bukanlah suatu kesalahan, hal ini dapat dilakukan hanya sebagai langkah awal.

Aku terbiasa mengandalkan seseorang untuk memberi jalan keluar. Tak pernah sedikit pun berpikir bertanya pada diri sendiri, mendengarkan hati nurani yang kemudian aku ketahui adalah yang terbaik. Kadang aku merasa telah keliru mengambil keputusan, mulai soal karir yang tidak sejalan dengan bakat dan keterampilanku, membangun relasi antar pribadi yang ternyata tidak otentik, itu semua ternyata akibat arahan orang lain. Aku merasa mengalami jalan takdir yang ditentukan orang lain. Alih-alih mengikuti intuisiku untuk tetap “on track”, aku malah melihat keluar diri, terpengaruh apa kata orang tentang arahan-arahan dan jawaban-jawaban atas permasalahanku.

Guru batin sesungguhnya senantiasa membimbingku dalam menapaki jalan yang harus aku tempuh. Para ahli sekali pun tidak akan mampu menunjukkan keputusan jalan apa yang harus aku tempuh. Mereka hanya memberikan “peta, kompas dan lampu center” agar mempermudahku mengarungi samudera, meniti pengalaman di “hutan belantara kehidupan” ini untuk menemukan jawaban. Mereka mengajakku berpikir dan menggunakan logikaku, tetapi tidak melatih intuisiku.

Sekali aku melihat ke dalam batin, aku menyadari bahwa apa pun yang aku inginkan dan butuhkan ada “di sini”, di dalam batinku yang siap untuk digunakan. Satu-satunya izin yang kuperlukan adalah dari diriku sendiri. Satu-satunya yang tahu apa yang baik untukku adalah diriku sendiri. Aku hanya butuh keberanian membuka diri berelasi dengan guru batin dan percaya penuh padanya. Aku siap mengizinkan diriku mendengarkan guru batin ketika aku duduk relaks di alam terbuka, jauh dari keramaian.

Orang pada umumnya senang berdoa, berbicara kepada Tuhan tak henti-hentinya. Lalu kapan memberi kesempatan Tuhan menjawab. Kapan kita siap mendengarkan suaranya. Di saat meditasi, guru batinku berbisik, dan bernyanyi seirama dengan getaran jiwaku hingga terasa seolah aku berada di alam bebas. Dalam kebebasan aku pun menyadari, aku adalah jiwa sejati yang selalu “hidup”, sebagai guru batin bagi raga, pikiran dan perasaanku sendiri. Guru batin membebaskan jiwaku dari kemelekatan pada yang terbatas. Jika aku memiliki guru batin, maka Anda yakinlah juga memilikinya.


Ramadhan, 13 Mei 2019

~ Rani A. Dewi ~

Senin, 29 April 2019

MENGAPA DIA TIDAK MEMAAFKAN ?






Seseorang datang kepada saya mengeluhkan pasangannya yang tampak tidak dapat memaafkan atas kesalahan yang dia perbuat. Padahal katanya dia sudah berulang kali menjelaskan alasan mengapa hal itu dia lakukan. Setiap kali selesai menjelaskan diakhiri dengan meminta maaf. Tetapi pasangannya itu tak kunjung menerima dan menghindar membahasnya. Kini ia putus asa, merasa sia-sia meminta maaf dan tak guna lagi hidup bersama dalam perkawinan, selain putus asa ia juga merasa tertekan. Memang meminta maaf sepertinya lebih mudah dari pada memaafkan. Mengapa demikian? Mungkin perlu ditelaah bagaimana cara Anda meminta maaf baik dengan bahasa verbal maupun bahasa tubuh Anda. Bahasa adalah alat komunikasi bukan?


Pertama, meminta maaf adalah mengekspresikan perasaan menyesal atas perbuatan yang menyebabkan timbulnya emosi negatif pada orang lain dan karenanya Anda merasa bertanggungjawab atas perasaannya itu. Dalam hal ini hindari mengatakan seperti contoh ini: "Kamu marah ya sama saya? Maafin saya yah". Rubahlah cara menyatakannya menjadi: "Maafkan saya sudah menyakiti hati kamu".


Kedua, hindari menjelaskan hal ihwal perbuatanmu dan menyampaikan alasan, sebab Anda tidak dapat mencari pembenaran dibalik permohonan maafmu. Ini namanya membela diri. Pasangan Anda akan merasa jengkel. Misalnya Anda mengatakan: "Maafin saya, soalnya .....” dan seterusnya, atau contoh lain, “Memang saya yang salah, tetapi .......”.


Ketiga, mintalah maaf tanpa berharap dia memaafkanmu. Ketika Anda sudah meminta maaf itu sudah cukup untuk menyatakan penyesalan. Anda tidak perlu mengulang- ngulang dengan harapan dia segera memaafkanmu. Namun sadarilah bahwa ini saatnya Anda memahami perasaannya bahwa dia butuh lebih banyak waktu untuk memaafkan Anda. Mungkin juga meyakinkan dirinya sendiri untuk menerima atas segala yang telah terjadi.


Keempat, ketahuilah sesungguhnya meminta maaf adalah sikap tanggungjawab Anda pada perasaan Anda sendiri bukan pada perasaannya. Namun jika dia tidak dapat memaafkan itu adalah pilihannya sendiri. Dengan demikian Anda membebaskan jiwa Anda dari kemelut rasa bersalah yang dapat merusak kesehatan Anda baik fisik maupun batin. Membiarkan keberadaan rasa bersalah memupuk penderitaan tumbuh menjadi beban hidup. Oleh karenanya meminta maaf juga bagian dari proses penyembuhan luka batin dan Anda terbebas dari beban hidup. Lebih dalam lagi, ketika meminta maaf berarti Anda sedang menghidupkan nilai cinta kasih terhadap diri sendiri dan pasangan Anda.



(Rani A. Dewi, Couple Relationship Therapist and Living Values Education Trainer)

Senin, 01 April 2019

W O R K S H O P





M I N D F U L - L I V I N G

“ THE INNER SECRET OF THE PATH ”
(Life Purpose)


Topik Pertemuan Kedua:

§  Pesan Para Mistikus (The Messages of The Mysticus)
§  Menjernihkan Masa Lalu (Clearing The Past)
§  Mengikuti Arus Energi Kehidupan (Engaging The Flow)
§  Etika Antar Pribadi (The Interpersonal Ethic)
§  Kebudayaan yang Tengah Bangkit (The Emerging Culture)

Fasilitator: Rani Anggraeni Dewi, MA, MCH (Accredited Trainer Living Values Indonesia, Mindful Living Therapist, dan Couple Relationship Therapist)

Workshop pertemuan kedua:
📆 Kamis & Jumat, 25-26 April 2019
Pukul: 08.30 – 17.00 wib
🏬 Roosseno Plaza (Cinema Room Lt. 2)
Jl. Kemang Utara Raya No. 1, Jak-Sel

Investasi:
Rp. 1.500.000,-/ 2 hari (seminar kit, lunch, coffee break, tempat workshop yang nyaman).

Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri (Acc: 1260005338610) a.n: Yayasan Indonesia Bahagia

Informasi & Pendaftaran:
Nisa (0813.1979.3978)

Selasa, 19 Februari 2019

W O R K S H O P



🌟 🌟 🌟 🌟 🌟 🌟 


 Mindful Living


“ THE INNER SECRET OF THE PATH ”

(Life Purpose)



Dalam workshop ini Anda diajak untuk melihat sekilas semacam pengalaman di dalam hidup yang entah bagaimana terasa berbeda, muncul rasa ingin tahu dan membangkitkan semangat. Anda mulai menyadari adanya serangkaian peristiwa berulang terjadi dalam hidup yang selama ini Anda lewatkan begitu saja tanpa mengerti apa sebenarnya makna pengalaman tersebut.


Mulai dari perjumpaan dengan sahabat, mitra kerja, dan pasangan hidup. Sepertinya hal itu biasa-biasa saja tapi ternyata perjumpaan itu membawa “pesan” yang berarti bagi kehidupan Anda pribadi.


Selama dua hari workshop, Anda akan menjalani proses mengenal diri dalam situasi interaktif, dinamis, dengan pendekatan Experiental Learning hingga munculnya suatu “kesadaran baru” tentang diri, apa, siapa dan untuk apa Anda “berada di sini”, termasuk makna peristiwa kebetulan yang Anda alami.


Workshop ini terinspirasi dari sebuah buku best seller ditahun 90-an yang berjudul “The Celestine Prophecy” karya James Redfield.


Topik:
1. NONTON FILM “THE CELESTINE PROPHECY”
2. MEMAHAMI FENOMENA SYNCHRONICITY
3. ANALISIS JALAN KEHIDUPAN PRIBADI
4. MEMAHAMI ENERGI SPIRITUAL


Workshop pertemuan pertama:
- Kamis & Jumat, 21 & 22 Maret 2019
- 08.30 – 17.00 wib
Roosseno Plaza, Cinema Room Lt. 2, Jl. Kemang Utara Raya No.1 Jak-Sel


Fasilitator:
RANI ANGGRAENI DEWI, MA, MCH (Inner Self Improvement Trainer & Couple Relationship Therapist).


Investasi:
Rp. 1.500.000,-/ 2 hari (seminar kit, lunch, coffee break, tempat workshop yang nyaman). Ditransfer ke rekening: Bank Mandiri ( 1260005338610 ) a.n: Yayasan Indonesia Bahagia.


Informasi & pendaftaran:
Nisa - 0813.1979.3978


🌟 🌟 🌟 🌟 🌟 🌟





Senin, 28 Januari 2019

MENGAPA MENIKAH



Dalam dunia perkawinan, pasangan tidak cukup hanya menjalankan peran sebagai suami atau istri, atau melakukan kewajiban sebagai pendamping hidup. Terdapat informasi dari Dirjen Bimas Kementerian Agama RI, berdasarkan data tahun 2010, dari 2 juta orang menikah setiap tahun se-Indonesia ada 285.184 kasus berakhir dengan perceraian. Ada lagi Konsultan yang menyatakan 1 dari 10 perkawinan di akhiri dengan perceraian. Perceraian ibarat fenomena “Gunung Es”.

Dalam menjalani perkawinan, pasangan menghadapi banyak tantangan yang tidak akan berhenti hingga kematian memisahkan mereka. Tentunya timbul beragam permasalahan dari mulai hal-hal kecil sehari-hari, perbedaan kebiasaan, tradisi budaya, nilai-nilai dan bahkan agama termasuk juga kepribadian masing-masing.

Ketidak-mampuan pasangan berkomunikasi dengan cara-cara yang “persuasif dan bersikap empati, cepat atau lambat akan mempertajam ketidak-harmonisan, hingga “Bom Waktu” meledak dan akhirnya hancur. Disharmonis hubungan antar-pribadi yang tidak terselesaikan sangat mudah menggiring pada keinginan bercerai, apalagi hampir 90% ketidak-mampuan berkomunikasi diperburuk dengan keengganan bersikap “memberi maaf—menerima maaf” (giving-receiving) yang merupakan hukum alam; hukum keseimbangan.

Selama proses tumbuh kembang kualitas perkawinan, cinta tidaklah cukup, cinta bukanlah satu-satunya modal membangun rumah tangga. Namun dibutuhkan pula Skill dan Knowledge tentang makna dan tujuan pernikahan. Tinggalkanlah mitos perkawinan yang sudah berkembang di masyarakat, misalnya “terimalah dia apa adanya”, “jangan menuntut seseorang untuk berubah”. Keyakinan pada mitos tersebut di atas menyumbang embrio sulitnya menjadikan sebuah perkawinan yang  memberikan kedamaian pada kedua pihak.

Mitos kerap kali berdampak negatif pada ketidak-selarasan hubungan antar pribadi dalam rumah tangga. Dikarenakan pasangan akan menuntut satu sama lain untuk menerima apa adanya, maka masing-masing tidak berusaha merubah dirinya ke arah pribadi yang lebih baik. Seiring dengan berjalannya waktu, usia bertambah, fisikpun berubah. Namun kualitas hubungan antar pribadi tidak berubah. Kejenuhan mulai timbul dari waktu ke waktu hingga perasaan lelahpun muncul. Kalau sudah begini maka kedua pihak akan saling menyalahkan. Ditambah lagi mengingat masa-masa lalu dengan penuh penyesalan.

Di sinilah saatnya merenung dan melihat ke dalam diri. Jika salah satu menolak untuk berubah, maka yang lain hendaknya dapat memulainya secara suka rela dengan tujuan menjadi diri yang lebih bermakna bagi kehidupan dan bermanfaat bagi orang lain. Bagaikan membangun rumah, pernikahan pun memerlukan fondasi yang kuat yakni terdiri dari ramuan cinta, komitmen pada tujuan perkawinan dan will power untuk merubah diri lebih baik. Inilah “bahan” untuk membuat fondasi yang kuat. Setelah itu ditopang Skill dan Knowledge sebagai pilar-pilarnya hingga rumah itu menjadi “kokoh”.

Sesuai dengan pengalaman dalam menangani kasus perkawinan, saya melihat kebanyakan dari mereka belum melakukan usaha yang maksimal. Dengan mudahnya mereka ingin bercerai. Kerap terdengar mereka mengatakan sudah tidak ada kecocokan atau sudah tidak cinta lagi. Sehingga mereka berpikir bercerai adalah jalan terbaik. Mungkin terbaik untuk beberapa kasus, tetapi tidak untuk pada umumnya. Perceraian memang bukanlah jalan yang buruk tetapi juga bukan jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah perkawinan. Setidaknya perlu di upayakan suatu solusi yang nyaman bagi keduanya.

Saya melihat pada banyak kasus, justru perceraian merupakan pelarian dari ketidak-mampuan menghadapi kenyataan dibutuhkannya “membenahi diri”. Perceraian tanpa disadari untuk kepuasan meng-entertaint “Sang Ego” yang mendominasi keinginan sesaat. Mempertahankan pernikahan dibutuhkan Knowledge, Skill dan “back to basic” sebagaimana ketika Anda memutuskan masuk ke dunia perkawinan. Jika tidak maka  sadar atau tidak sadar Anda sebenarnya hanyalah “berpura-pura” membangun perkawinan atau menjalani unconscious marriage.

Jadi apa yang dimaksud dengan Conscious Marriages?

Pertama, sejak awal melangkah ke dalam dunia perkawinan sebagai dunia yang baru bagi Anda, Anda menyadari bahwa hubungan romantic Anda berdua memiliki tujuan tersembunyi (di bawah sadar) yakni menyembuhkan penderitaan di masa kanak-kanak selama pengasuhan orangtua.

Kedua, Anda berdua berupaya melepaskan pencitraan yang dibawa sejak kecil, yang mana pencitraan ini mengandung luka batin disebabkan peristiwa traumatis, pengalaman buruk dan tidak menyenangkan.

Ketiga, kedua belah pihak sadar akan kebutuhan bertumbuh menjadi dirinya sendiri (proses individuasi) sehingga masing-masing memberi kesempatan aktualisasi diri sebagai jalan menuju kesempurnaan jiwa.

Keempat, Anda berdua sadar setiap interaksi yang terjadi membutuhkan cara berkomuniaksi yang efektif disertai sikap welas asih, sebab komunikasi merupakan tools terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri.

Kelima, Anda saling menghargai harapan, angan-angan, mimpi, cita-cita yang ingin dicapai. Bahkan saling memberi support dan masukan positif tanpa menggurui karena Anda menghindari memproyeksikan diri sikap kepribadian Anda pada pasangan Anda.

Keenam, Anda berdua terus-menerus belajar teknik baru, menambah pengetahuan untuk mengembangkan kegiatan bersama sejalan dengan talenta masing-masing.

Ketujuh, Anda berdua semakin sadar untuk mencintai, menjadi pribadi yang “utuh”, memudahkan Anda beradaptasi dengan lingkungan dimana cinta kasih terjalin secara alami. Di sinipun Anda berdua sangat paham bahwa kebahagiaan dalam mewujudkan perkawinan, rumah tangga yang damai diperlukan perjuangan, kerjasama, serta ketulusan dari kedua belah pihak.

In an unconscious marriage, you believe that the way to have a good marriage is to pick the right partner. But in a conscious marriage you realize you have to be the right partner. Realizing that a good marriage requires commitment, discipline and the courage to grow and change – as marriage is hard work.

Pada umumnya pasangan menikah berangkat dari romantic love, ketertarikan fisik satu sama lain, atau karena bibit bobot bebet. Ajaran agama dan tradisi budaya juga ikut mendasari kuatnya keingingan untuk menikah, misalnya untuk mendapatkan keturunan, ajaran agama, status sosial, atau adanya keterpaksaan, dan lain-lain. Alasan-alasan di atas tidaklah salah. Namun tanpa mengurangi nilai-nilai normatif tersebut, Perkawinan sesungguhnya adalah wadah yang sakral bagi kedua makhluk Tuhan, perempuan dan laki-laki untuk bekerjasama saling melengkapi, saling menyembuhkan, saling menyempurnakan jiwa, agar kembali utuh sebagai Makhluk Spiritual sebelum kembali pada Yang Maha Sempurna. Perkawinan merupakan salah satu terminal dalam episode kehidupan dalam perjalanan kembali kepada-NYA.[]



Oleh: RANI ANGGRAENI DEWI

Minggu, 02 Desember 2018

Workshop



MINDFUL LIVING
“BERDAMAI DENGAN DIRI”

Kamis, 31 Januari & Jumat, 1 Februari 2019
08.30 – 16.00 wib
Workshop (Angkatan Ke-8)


Salam damai sahabat,

Di tengah derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diasumsikan mengakibatkan melunturnya nilai-nilai moral kemanusiaan, ditandai misalnya dengan maraknya berbagai kasus kekerasan. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sering berbeda pandangan hidup dan kebiasaan dengan orang lain, yang berpotensi timbulnya konflik dalam hubungan antar-pribadi bahkan antara suami-istri, orangtua-anak, antara saudara kandung. Kehidupan modern yang memberikan berbagai kemudahan sering membuat manusia merasa jenuh dan kemudian mempertanyakan tujuan-tujuan hidupnya.


Kami percaya, sesungguhnya hidup adalah “Anugerah Emas”, jika manusia dapat memaknainya dengan menjalani hidup secara sadar jiwa sehingga fokus pada tujuan-tujuan hidupnya yang lebih luhur. Inilah yang kami sebut Mindful Living. Lalu bagaimana menjalani hidup dengan Mindful? Tidak jarang langkah-langkah seseorang dipengaruhi oleh kecemasan, kekhawatiran, serta pikiran-pikiran negatif. Lalu bagaimana akibatnya terhadap kualitas hidup dan kesehatan Anda?


Untuk menjawabnya, kami mengajak Anda mengikuti workshop selama 2 hari penuh, untuk mengenal dan mengkaji lebih dalam tentang Mindful Living. Dalam workshop ini Anda akan terlibat dalam suasana “mengalami” serta menemukan tools pengendalian diri, dalam suasana yang interaktif dan menyenangkan. Dengan buah dari pengalaman pribadi ini, Anda pun siap menjadi agen perubahan dimulai dari dalam keluarga ke lingkungan yang lebih luas.

Topik Workshop:
1. Mengenal Kekhawatiran & Kepanikan Dalam Diri.
2. Mengenal Kemarahan.
3. Meninjau Ulang Keyakinan Dasar.
4. Mindful Living Therapy – Meditation.

Tempat:
Roosseno Plaza, Cinema Room Lt.2
Jl. Kemang Utara No.1 Kemang-Jakarta Selatan (seberang McDonald Kemang)

Fasilitator:
Rani Anggraeni Dewi, MA, MCH (Mindful Living Therapist, Couples Relationship Therapist, Living Values Education Trainer)

Investasi:
Rp.1.500.000, / 2 hari (seminar kit, certifikat, lunch, coffee break, tempat workshop yang nyaman).

Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri
Acc: 1260005338610
a.n: Yayasan Indonesia Bahagia

Informasi lebih lanjut dan pendaftaran:
Nisa (0813.1979.3978)

Pastikan Anda tidak tertinggal informasi dan kesempatan yang berharga ini. Peserta terbatas, maksimal 10 orang!