Senin, 20 Juni 2016

MINDFUL LIVING
“BERDAMAI DENGAN DIRI”
Jumat-Sabtu, 12-13 Agustus 2016


Salam damai sahabat,

Di tengah derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diasumsikan mengakibatkan melunturnya nilai-nilai moral kemanusiaan, ditandai misalnya dengan maraknya berbagai kasus kekerasan. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sering berbeda pandangan hidup dan kebiasaan dengan orang lain, yang berpotensi timbulnya konflik dalam hubungan antar-pribadi bahkan antara suami-istri, orangtua-anak. Kehidupan modern yang serba mudah sering membuat manusia jenuh dan mempertanyakan tujuan-tujuan hidupnya.
 

Sesungguhnya hidup adalah “Anugerah Emas”, jika manusia dapat memaknainya dengan menjalani hidup berkesadaran Ilahi atau yang kami sebut Mindful Living. Lalu bagaimana menjalani hidup dengan Mindful? Tidak jarang langkah-langkah seseorang dipengaruhi oleh kecemasan, kekhawatiran, pikiran-pikiran negatif. Lalu bagaimana akibatnya terhadap kualitas hidup dan kesehatan Anda?


Untuk menjawabnya, kami mengajak Anda mengikuti Workshop selama 2 hari, untuk mengenal dan mengkaji lebih dalam tentang Mindful Living. Dalam workshop ini Anda akan terlibat dalam suasana “mengalami” (Experiential Learning) serta menemukan tools    pengendalian diri, dalam suasana yang interaktif dan menyenangkan. Buah dari pengalaman pribadi ini, Anda siap menjadi agen perubahan bagi lingkungan.


Testimoni dari peserta yang telah mengikuti
Workshop Mindful Living Therapy, a.l:

“Sungguh luar biasa sekali, saya sangat senang hari ini dapat mengenali core belief  saya, dan mempunyai solusi atau rules untuk merubah core belief  yang menurut saya mengganggu.”
(Agus H - Pengasuh Anak Yatim)

“Saya senang dapat mengenal berbagai macam (8) pola pikir terbatas. Saya dapat menganalisa kecemasan yang timbul dengan pola pikir tersebut sehingga dapat membantu saya agar tidak mudah cemas. Sangat bermanfaat, terima kasih”.
(Rina P. Dewi – Dokter)

“Saya menjadi sadar akan diri sendiri pada saat panic dan mengatasinya, sadar akan core belief yang berjalan dengan jalannya hidup saya dan sadar betapa pentingnya mengontrol kemarahan yang akan menjadikan damai hidup.”
(Agus T – Pengajar)


Workshop (Angkatan Ke-5)

TOPIK WORKSHOP:
1. MENGONTROL KEKHAWATIRAN (Worry Control)
2. MENGATASI PANIK (Coping with Panic)
3. MENGUJI KEYAKINAN UTAMA (Testing Core Beliefs)
4. MENGONTROL KEMARAHAN (Controlling Anger)
5. MINDFUL LIVING THERAPY - MEDITATION

Tempat:
Little Amaroossa Residence
Jl. Cipete Raya No.5 -Jakarta Selatan


FASILITATOR:
Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A., saat ini beliau aktif sebagai Lead Trainer Living Values Indonesia, Mindful Living Therapist, dan Marriage Therapist. Sebagian karya yang ditulisnya adalah buku “Menjadi Manusia Holistik” (2007), salah satu kontributor buku “Reinventing Indonesia” (2008), dan buku “9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak” (2015). Karyanya yang lain adalah membuat film dokumenter yang berjudul “Searching for I”, sebuah kisah perjalanan pencarian diri sejati dan kebahagiaan. Sangat berminat pada kajian Agama-agama & Spiritualitas. (www.raniadewi27.blogspot.com).


TARGET PESERTA:
Pendidik,  Guru,  Orang Tua,  Aktivis LSM,  Terapis/ Konselor,  Coach, dan siapa saja yang berminat.


DONASI:
Rp.1.500.000, / 2 Hari (Seminar Kit, Sertifikat, Buku “Menjadi Manusia Holistik”, Lunch, Coffee Break).


Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri
Acc: 1260005338610
a.n: Yayasan Indonesia Bahagia


INFORMASI LEBIH LANJUT DAN PENDAFTARAN:
NISA (0813.1979.3978)


Pastikan Anda tidak tertinggal informasi dan kesempatan yang berharga ini. Peserta terbatas, maksimal 16 orang!



Senin, 09 Mei 2016

VALUES - BASED ENTREPRENEURSHIP

Dra. Rani A. Dewi, M.A *


Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih atas undangan ini yang mana  mengikutsertakan saya menjadi salah satu pembicara dalam Seminar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Islam FITK UIN Syarief Hidayatullah Ciputat, yang saya dengar dalam rangka Milad UIN. Saya ucapkan selamat Milad, semoga UIN terus exist dan berjaya serta ke depan dapat menghasilkan para Cendekiawan Muslim yang tidak saja ahli dalam ilmunya masing-masing secara Intelektual, namun juga dapat menjadi tokoh Islam yang Cerdas Emosi dan Bernilai Luhur.

Saya senang dengan tema Seminar ini yaitu: "Islamic Education Effect for Social Living and Student Entrepreneurship”, hal ini menurut pengamatan saya sebagai pendidik khususnya sebagai Trainer  Pendidikan Menghidupkan Nilai  (Living Values Education)  merupakan hal yang sangat urgent untuk tidak saja didiskusikan di dalam Seminar, tetapi yang lebih penting lagi adalah memikirkan sebuah metode yang efektif atau sebuah pendekatan yang holistik tentang bagaimana cara menghidupkan nilai-nilai seorang calon Entrepreneur. Sebab pada kenyataannya ada faktor yang sangat essential dalam masalah Entrepreneurship yang belakangan ini sudah terabaikan atau memang sengaja diabaikan, yakni faktor kesadaran nilai. Terjadi penyalahgunaan anggaran, meningkatnya tindakan/ perilaku korupsi. Ini semua disebabkan karena tidak dihidupkannya nilai-nilai dalam diri seseorang. Saya ingin mengutip apa yang dikatakan Mahatma Gandhi “This planet can provide human needs but not human greed”. Kesadaran nilai ini tidak semerta-merta bekerja dengan baik jika tidak ada “pemantiknya". Bagaimana memantiknya? Nah di sinilah perlunya Pendidikan Berbasiskan Nilai-Nilai yang di dalam masyarakat kita lebih dikenal dengan Pendidikan Karakter. Oleh karenanya sungguh bangga bahwa Mahasiswa UIN memikirkan masalah ini dan menjadikan tema Seminar kali ini.

Sekilas makna Entrepreneurship yang saya pahami, sederhananya Entrepreneurship adalah kemampuan nyata seorang individu yang berasal dari diri mereka sendiri di dalam maupun di luar organisasi, dimana individu itu berada untuk menemukan dan menciptakan peluang ekonomi baru. Siapa pun yang melakukan kegiatan yang berhubungan dengan Entrepreneurship disebut Entrepreneur. Entrepreneur diartikan sebagai seorang yang selalu membawa perubahan, innovasi, ide-ide baru, sumber daya baru, asset baru untuk perubahan. Dengan demikian seorang Entrepreneur dituntut memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang ilmu ekonomi dan ilmu sosial lainnya untuk mendukung upayanya agar berjalan dengan lancar dan sukses sesuai dengan target dan harapannya, baik secara personal maupun secara organisasi.

Biasanya istilah Entrepreneurship hanya dikenal di kalangan para penggiat ekonomi atau aktifitas perdagangan. Orang menyebutnya di dalam bahasa Inggris, Businessman. Namun belakangan istilah ini tidak saja digunakan di kalangan penggiat ekonomi, tetapi juga di kalangan penggiat CSR (Corporate Social Responsibility). Bahkan baru-baru ini saya saksikan tayangan di salah satu media televisi nasional tentang kegiatan yang mereka sebut Creativepreneur. Namun pada  kesempatan ini saya tidak dalam kapasitas untuk berbicara tentang  kegiatan Entrepreneur, tetapi lebih kepada kualitas seorang Entrepreneur dan kualitas yang perlu dikembangkan dalam Entrepreneurship.

Dalam latar belakang seminar ini disebutkan bahwa; tantangan dan peluang kiprah generasi muda dalam persaingan dunia menuntut peran pendidikan yang komprehensif. Penanaman nilai dalam peserta didik juga perlu dilengkapi dengan pelatihan khusus untuk memenuhi kebutuhan dalam menghadapi persaingan global. Dunia kewirausahaan (Entrepreneurship) menjadi sandingan yang serasi bagi Pendidikan Karakter. Entrepreneurship juga membutuhkan Leadership, yaitu kemampuan memimpin, terutama memimpin diri sendiri dan kemudian memimpin orang lain dalam berbagai kegiatan yang digelutinya.

Dalam hal memimpin dirinya seorang yang berjiwa leadership tidak menunggu dilayani, tidak menunggu diperhatikan, tidak menunggu pemberian orang lain. Artinya dia seorang yang selalu mengatakan "saya bisa” memenuhi kebutuhannya sendiri, terutama kebutuhan dasarnya. Bahkan dia tidak menyerah menghadapi tantangan untuk suatu perubahan jika membawanya ke arah yang lebih baik. Oleh karenanya seorang yang memiliki Leadership biasanya mampu menjalani Entrepreneurship pula. Tetapi apakah pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi menyiapkan peserta didik menjadi seorang Entrepreneur? Pendidikan kerap rancu dengan pengajaran.

Pendidikan adalah pelajaran yang didapat dari pengalaman hidup yang terus berlangsung hingga ajal tiba (Jane Goodall). Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, dimana seorang manusia belajar untuk mengetahui, belajar untuk mengerjakan, belajar untuk menjadi dan belajar untuk hidup bersama orang lain secara harmonis. Ini empat pilar prinsip dalam Living Values Education (Tillman, 2004). Ini sejalan dengan karakter yang harus dipenuhi dalam mengembangkan jiwa Entrepreneurship.

Berkaitan dengan LVE, dalam konteks Entrepreneurship, seseorang dibimbing untuk memiliki kesadaran nilai. LVE percaya bahwa setiap orang sudah membawa nilai-nilai luhur di dalam dirinya dari sejak lahir, tinggal dihidupkan saja. Lingkungan pertama yang bertugas menghidupkannya adalah keluarga, dalam hal ini adalah orangtua sebagai pendidik pertama dan utama, setelah itu barulah sekolah, atau pendidikan formal. Nilai-nilai itu akan hidup dalam suasana berbasiskan nilai-nilai. Ketika lingkungan berbasiskan nilai-nilai itu hidup subur, maka setiap orang akan terdorong untuk berprestasi dan berperilaku positif. Mengapa? Sebab lima kebutuhan emosi dasarnya terpenuhi, yakni kebutuhan untuk dihargai, kebutuhan untuk dipahami, kebutuhan untuk dicintai, kebutuhan rasa aman, dan kebutuhan untuk bernilai (Tillman, 2004).

Kembali di awal tadi saya mengatakan bahwa aspek kesadaran nilai sangat penting dalam Entrepreneurship, maka saya ingin menyampaikan konsep Values Based Entrepreneurship. Yakni Entrepreneurship yang berorientasikan untuk menghidupkan nilai-nilai, yang dalam hal ini sedikitnya ada lima nilai yang penting bahkan urgent untuk dihidupkan, yaitu nilai Kejujuran, nilai Tanggungjawab,  nilai Kebebasan, nilai Cinta Kasih dan nilai Rendah Hati. Nilai kejujuran kepada diri sendiri dan orang lain akan melahirkan kesejahteraan bagi orang banyak. Nilai tanggungjawab akan melahirkan keberlangsungan hajat hidup orang banyak, dan nilai kebebasan akan melahirkan daya juang untuk terus berkarya secara kreatif dan karenanya mampu  menciptakan pekerjaan bagi dirinya serta peluang bagi orang lain, nilai cinta kasih akan melahirkan sikap empati, sehingga tidak akan mengambil yang bukan haknya, terakhir adalah nilai rendah hati yang akan melahirkan sikap bersyukur dan tidak menonjolkan dirinya dengan merugikan orang lain. 

Nilai-nilai inilah yang sekarang ini mengalami krisis, terabaikan atau bahkan diabaikan. Terakhir sebagai penutup, dengan pemikiran Values Based Entrepreneurship kita Insya Allah dapat secara optimis menyiapkan generasi muda kita khususnya Mahasiswa UIN untuk tidak semata-mata menghadapi persaingan global yang kian menguat. Tetapi sesungguhnya yang lebih penting lagi adalah membangun perekonomian di negeri ini dengan lebih baik yaitu yang berpihak pada rakyat kecil dan untuk memajukan bangsa serta kebahagiaan rakyat secara keseluruhan. Namun tentu saja hal ini tidak seperti membalikkan telapak tangan. Kita perlu berjuang dengan bersungguh-sungguh dan consistent/ istiqomah. Melalui  Living Values Education for Developing Entrepreneurship, sebagai metode menemukan pemantik untuk membangkitkan kesadaran nilai. Insya Allah harapan ini dapat terwujud. Amin.


Jakarta, 9 Mei 2016
UIN Syarief Hidayatullah, Ciputat



*Living Values Education Trainer
Couples/ Marriage Therapist
Lecturer




Sumber:
Tillman, Dianne & Pillar Quera Colomina. Living Values An Educational Program Educator Training Guide: Panduan Pelatihan Bagi Pendidik. Jakarta: Grasindo, 2004.









LIVING VALUES EDUCATION WORKSHOP
FOR DEVELOPING VALUES TO MAKE A BETTER WORLD

LIVING VALUES EDUCATION WITH JALALUDDIN RUMI
Selasa-Kamis, 5-7 April 2016
Little Amaroossa Residence, Jakarta Selatan

Pelatihan ini adalah LVEP for Educator yang mempersiapkan peserta menjadi agen perubahan bagi lingkungannya baik secara sendiri-sendiri di dalam keluarga maupun melalui organisasi. Ada peluang bagi peserta yang berminat menjadi Accredited Trainer/ Fasilitator dengan mengikuti pelatihan ini lebih intensif (5x minimal 16 jam). Pelatihan ini juga dapat menginspirasi para peserta mengenai nilai-nilai yang berkembang secara pribadi dan sosial, serta menyadari pentingnya metode-metode praktis dalam mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut secara lebih luas. Serta memberikan kesempatan para peserta untuk merasakan pengalaman dalam hubungannya dengan mengaktualisasikan nilai-nilai dalam diri.

Pelatihan menghidupkan Kesadaran Nilai (Living Values) dan bagaimana mengaktualisasikannya adalah program pendidikan nilai-nilai dengan menggunakan pendekatan holistik, yakni suatu pendekatan yang memadukan pemberdayaan aspek kognitif dan aspek afektif dalam suatu kegiatan yang menarik dan bersifat experential learning. Dengan kata lain, program ini menyajikan berbagai macam aktivitas nilai dan metodologi praktis bagi peserta untuk dapat mengeksplorasi dan mengembangkan nilai-nilai pribadi dan sosial.


Senin, 07 Maret 2016

LIVING VALUES EDUCATION PROGRAM (LVEP) 1-2 MARET 2016











Pelatihan Membangkitkan Kesadaran Nilai (Living Values) yang diselenggarakan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB), bekerjasama dengan ALIVE (Association Living Values) Indonesia serta dalam rangka memperingati perayaan World Interfaith Harmony Week (WIHW) pada tanggal 1-2 Maret 2016 di Oktroi Plaza, Kemang - Jakarta Selatan.

Pelatihan ini diikuti oleh 31 orang dari kalangan orang tua dan karyawan, yang difasilitasi menjadi agen perubahan bagi lingkungannya baik secara sendiri-sendiri di dalam keluarga maupun melalui organisasi. Peserta dibekali tentang metode menghidupkan Kesadaran Nilai (Living Values) dan bagaimana mengaktualisasikannya, suatu pendekatan yang memadukan pemberdayaan aspek kognitif dan aspek afektif dalam suatu kegiatan yang menarik dan bersifat Experential Learning. Program ini menyajikan berbagai macam aktivitas nilai dan metodologi praktis bagi peserta untuk dapat mengeksplorasi dan mengembangkan nilai-nilai pribadi dan sosial.

YIB sebagai pusat studi kebahagiaan menyadari pentingnya memberikan informasi kepada masyarakat mengenai perlunya menghidupkan nilai-nilai universal dan hubungannya dengan kesejahteraan individu dan masyarakat lebih luas. Dengan kata lain, tidak saja memberikan pencerahan kepada pesertanya, tetapi juga menjadi bahan studi bagi YIB untuk saling berbagi pengetahuan dengan masyarakat. Selain itu, YIB juga ingin turut mengambil bagian dalam melakukan perubahan sosial ke arah tatanan masyarakat yang lebih baik dengan dimulai dari rumah karena tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan nilai dimulai dari rumah, berangkat dari keluarga.


Terima kasih kepada para trainer: Budhy Munawar-Rachman, Rani Anggraeni Dewi, Rifah Zainani, Mochamad Ziaulhaq yang terus bergerak untuk mengenalkan LVEP ke masyarakat luas. Semangat!


Rabu, 10 Februari 2016

LIVING VALUES EDUCATION WORKSHOP FOR DEVELOPING VALUES TO MAKE A BETTER WORLD






LIVING VALUES EDUCATION FOR EDUCATOR
Mengembangkan Nilai-Nilai untuk Dunia yang Lebih Baik


Apa itu LVEP?
Living Values Education Program (LVEP) adalah program pendidikan komprehensif yang mendorong setiap individu untuk menghidupkan nilai-nilai yang ada di dalam dirinya. Program ini didukung oleh UNESCO, yang bertujuan menyediakan prinsip-prinsip panduan dan cara bagi pengembangan manusia seutuhnya. (www.livingvaluesindonesia.org)


Mengapa Pendidikan Menghidupkan Nilai itu Penting?
Dewasa ini di dalam kehidupan secara global telah terjadi krisis nilai-nilai yang disebabkan absennya contoh-contoh sikap mulia dari para pemimpin, gaya hidup hedonistic pada masyarakat serta kesuksesan yang di ukur dari pencapaian yang berorientasi materi, terlebih lagi kekerasan atas nama agama. Pada dasarnya setiap manusia sudah memiliki nilai-nilai di dalam dirinya. Namun apakah mereka telah mengaktualisasikan nilai-nilai itu? Pelatihan ini dirancang untuk dapat membantu seseorang membangkitkan kesadaran nilai dan menghidupkannya serta dapat mengaktualisasikannya dalam kehidupan sesuai dengan misi yang di emban.


Tujuan Pelatihan?
Pelatihan ini adalah LVEP for Educator yang mempersiapkan peserta menjadi agen perubahan bagi lingkungannya baik secara sendiri-sendiri di dalam keluarga maupun melalui organisasi. Ada peluang bagi peserta yang berminat menjadi Accredited Trainer/ Fasilitator dengan mengikuti program ini lebih intensif. Untuk mendapatkan info lebih banyak, maka penting bagi peserta mengikuti sesi Introduction.


Target Peserta?
Pendidik, Guru, Orang Tua, Aktivis LSM, Terapis, Konselor, Coach, dan siapa saja yang berminat (terbuka untuk umum).


Kapan pelaksanaannya?
Introduction : Selasa, 23 Februari 2016 pukul 08.30 – 13.00 wib
Workshop : Selasa-Rabu, 1-2 Maret 2016 pukul 08.30 – 17.00 wib


Tempat di: Cinema Room Lt.2, Oktroi Plaza Kemang
Jl. Kemang Utara Raya No. 1 - Jakarta Selatan 12730  (seberang McD Kemang)


Lead Trainer:
Dra. Rani Anggraeni Dewi, MA (Accredited Trainer LVEP Indonesia)
Dikenal sebagai Self Improvement Workshop Trainer dan Pre/ Marital Therapist. Telah berpengalaman selama lebih dari 20 tahun memfasilitasi pelatihan Pengembangan Pribadi. Saat ini aktif sebagai Ketua Yayasan Indonesia Bahagia (YIB) dan Trainer Living Values Education Program (LVEP) Indonesia. Sebagian karya yang ditulisnya adalah buku “Menjadi Manusia Holistik” (2007), salah satu kontributor buku “Reinventing Indonesia” (2008), dan buku “9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak” (2015).


Dr. Budhy Munawar-Rachman (Accredited Trainer LVEP Indonesia)
Dikenal sebagai seorang dosen filsafat dan mistisisme pada Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, penulis buku “Encyclopedia of Nurcholish Madjid”, “Membaca Nurcholish Madjid”,Secularism, Liberalism and Pluralism Discourse in Indonesia”, “Ensiklopedi Tematis Dunia Islamdan lain-lain. Saat ini beliau aktif sebagai Trainer Living Values Educational Program dan Program Officer Islam and Development, The Asia Foundation (TAF).


Kontribusi Peserta?
Biaya dalam program ini sepenuhnya untuk mengcover semua biaya operasional yang secara tidak langsung dikembalikan pada peserta berupa; lunch, coffee break pagi dan sore, certificate, buku, peralatan berbagai aktivitas nilai, serta tempat pelatihan dengan suasana yang tenang dan nyaman. Introduction Rp.250.000/peserta - Workshop Rp.575.000/peserta.


Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri
Acc: 1260005338610
a.n: Yayasan Indonesia Bahagia


Informasi & pendaftaran: Nisa 081319793978




TEMPAT TERBATAS, MAKSIMAL 25 PESERTA

LIVING VALUES EDUCATION FOR ACHIEVING SOCIAL INCLUSION AND EQUALITY










LIVING VALUES EDUCATION FOR ACHIEVING SOCIAL INCLUSION AND EQUALITY

GRIYA DUNAMIS, 1-5 FEBRUARI 2016

Mendampingi para fasilitator Program Peduli mengikuti workshop LVEP untuk pencapaian inklusi sosial dan kesetaraan. Para fasilitator ini bekerja untuk komunitas agama-agama lokal seperti Parmalim, Kaharingan, Sunda Wiwitan, Dayak Losarang, Kejawen, Sapto Darmo, Sedulur Sikep, Wettu Telu, Marapu, dan komunitas agama yang mengalami diskriminasi seperti Tionghoa di Banda Aceh, Ahmadiyah di Tasikmalaya, Kuningan dan Mataram, Syiah di Sampang dan Jember, dan Hindu di Bima. Melalui workshop ini fasilitator LVEP dan peserta merasa lebih yakin bahwa kita bisa mengembangkan program HAM Inklusi Sosial dan Kesetaraan melalui penguatan nilai-nilai (Living Values Education). Program HAM ternyata dapat dikembangkan dengan pendekatan "from inside-out" yang menekankan sisi kemanusiaan paling dalam (spiritual) untuk merealisasikan kemanusiaan pada sisi paling luar, yang disebut sebagai hak asasi manusia.



Workshop Living Values Education Program for Parent Groups - Bandung, 12-13 Januari 2016






"Nilai tidak cukup sekedar diajarkan, nilai harus dicontohkan. Maka menjadi orang tua yang bernilai adalah salah satu tugas kita bersama, dan hal itu bisa kita pelajari."
Inilah salah satu diskusi dan sharing yang dilakukan bersama para guru RA dari K3RA Kota Bandung dalam Workshop Living Values Education Program for Parent Groups, di Gedung Kemenag Kota Bandung, pada 12-13 Januari 2016, bersama Lead Trainer LVEP Indonesia Ibu Rani A. Dewi, M.A.

Para peserta berbagi pengalaman, baik di keluarga ataupun di sekolah. Setiap sesi diaktivitaskan, lalu ditarik dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dari berbagai pertanyaan, ternyata persoalan pola pengasuhan dalam keluarga sangat dominan. Dan memang kita ketahui, pengasuhan di rumah sangat mempengaruhi seorang pendidik dalam mengasuh anak-anak di sekolah.

Banyak hal yang terjadi dalam workshop kemarin, apapun itu, kami berharap menghasilkan satu perubahan dalam diri menuju pribadi yang lebih positif dan mampu menyumbang perbaikan pendidikan karakter di bangsa ini. Semangat!