Minggu, 16 Oktober 2016

LIVING VALUES EDUCATION FOR PARENTS


Dunia resah terhadap generasi muda dan masa depannya. Siapa yang bertanggungjawab?
Isu ini sudah menjadi masalah global. Mengapa?


§  Kekerasan seksual pada anak.
§  Media komunikasi semakin terbuka.
§  Menurunnya integritas tokoh panutan.
§  Materi menjadi tolak ukur kesuksesan.
§  Penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
§  Pendidikan yang menekankan hanya pada IQ.
§  Perbedaan nilai antara generasi tua dan muda.


Berangkat dari situasi tersebut di atas, Yayasan Indonesia Bahagia akan mengadakan “Pelatihan Living Values Education For Parents” untuk para orangtua, praktisi pendidikan dan pekerja sosial yang bekerja di wilayah pengasuhan anak. Pelatihan ini memiliki tujuan untuk memperkenalkan suatu metode pengasuhan anak berbasiskan nilai-nilai. Di Indonesia dikenal dengan pendidikan karakter.


Ada peluang bagi yang berminat menjadi fasilitator/ trainer!


Waktu & Tempat:
Kamis-Jumat, 3-4 November 2016 (pukul: 08.30 – 17.00 wib)
@Oktroi Plaza, Kemang


Trainer:
Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A., aktif sebagai Senior International Accredited Trainer for Living Values Indonesia, Mindful Living Therapist, dan Marriage Therapist.



Donasi: Rp. 750.000 (seminar kit, lunch, coffee break, certificate, tempat workshop yang nyaman).


Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri, ACC: 1260005338610 (a.n:Yayasan Indonesia Bahagia)



Informasi lebih lanjut & Pendaftaran:
Nisa (0813.1979.3978)



*Mengingat kegiatan ini ditujukan untuk orangtua, maka dianjurkan peserta yang hadir adalah pasangan/ suami-istri.


*Ini kegiatan-aktivitas untuk orangtua/ pasangan yang unik, yang tidak biasa.


Senin, 26 September 2016

SCHOOL OF HAPPINESS



Sesi Sharing


Dipandu oleh Co-Fasilitator, Ibu Savier Endraswari


Sesi Sharing


Relaksasi dipandu oleh Co-Fasilitator, Ibu Ratih K. Lestari


Sesi Energizer, bermain game Samson & Laila


Dipandu oleh Co-Fasilitator, Ibu Savier Endraswari


Sesi Penutup, Mindful Living Meditation Therapy



MINDFUL LIVING

“KOMUNIKASI WELAS ASIH”


Salam damai sahabat,

“Mendengar dengan hati sebagai bagian dari seorang yang peduli adalah suatu hadiah yang tak ternilai. Merefleksikan perasaan menyebabkan orang lain dapat merasa diterima, dikasihi, dihargai, aman dan bernilai. Sehingga terciptalah hubungan antar pribadi yang lebih harmonis”.

Dunia ini adalah apa yang telah kita buat dengannya. Bagaimana sikap kita menjalani hidup di dunia ini? Jika kita mengubah diri kita, kita dapat mengubah dunia. Mengubah diri kita dimulai dengan mengubah gaya bahasa kita serta metode komunikasi yang digunakan (Arun Gandhi, “Non Violence Communication” by Marshall B Rosenberg). Keluarga merupakan wadah yang pertama untuk membangun komunikasi welas asih dalam diri.

Melalui workshop ini, kami mengajak Anda membangun keluarga harmonis melalui komunikasi yang harmonis pula serta membantu kerabat kita untuk mampu membuat keputusan hidupnya secara mandiri namun tetap saling terhubung dengan sikap-sikap yang penuh welas asih.


Testimoni dari peserta yang telah mengikuti
Workshop Mindful Living:

“Alhamdulillah, hari ini saya dapatkan lagi ‘moment of truth’ yaitu ‘keterhubungan/ connected dengan orang lain sebagai Sender of Messages’. Hal ini sangat meaningfull for all communications we made” (Esa M).

“Alhamdulillah dengan mengikuti workshop hari ini banyak sekali ilmu yang saya dapat, dari segi rohani saya merasa diingatkan bahwa kita ini cuma sementara hidup di dunia. Maka introspeksi dan berbuat baiklah untuk orang lain” (Ahmad Q).

“Saya belum cukup ‘mendengar’ dengan baik karena selama ini saya hanya mendengar ‘apa yang ingin saya dengar’, bukan mendengar untuk ‘membantu’ orang lain” (Savier E).

“Hari ini saya tau, dengan mendengar aktif, open mind, open heart dan open will … saya lebih tahu diri saya. I’m happy, aku punya solusi” (Ambar K).


TOPIK:

1.    MENDENGAR DENGAN HATI
2.    MENGGALI INFO YANG TERSEMBUNYI
3.    PESAN DIRI
4.    KOMUNIKASI HARMONIS
5.    MINDFUL LIVING THERAPY - MEDITATION


WAKTU & TEMPAT
Kamis – Jumat, 13-14 Oktober 2016
Oktroi Plaza, Kemang – Jakarta Selatan


TARGET PESERTA:
Pendidik, Guru, Orang Tua, Aktivis LSM, Terapis, Konselor, Coach, dan siapa saja yang berminat.


FASILITATOR
Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A., aktif sebagai Accredited Trainer Living Values Indonesia, Mindful Living Therapist, dan Marriage Therapist. Sebagian karya yang ditulisnya adalah buku “Menjadi Manusia Holistik” (2007) dansalah satu kontributor buku “Reinventing Indonesia” (2008)  serta buku “9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak” (2015).Karyanya yang lain adalah membuat film dokumenter yang berjudul “Searching for I”, sebuah kisah perjalanan pencarian diri sejati dan kebahagiaan. Sangat berminat pada Kajian Agama-Agama & Spiritualitas.(www.raniadewi27.blogspot.com)


Donasi
Rp.1.500.000-,/2 hari (seminar kit, lunch, coffee break, certificate, tempat workshop yang nyaman).

Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri, ACC: 1260005338610
a.n:Yayasan Indonesia Bahagia


INFORMASI LEBIH LANJUT DAN PENDAFTARAN:
NISA (0813.1979.3978)



Pastikan Anda tidak tertinggal informasi dan kesempatan yang berharga ini. Tempat terbatas!


Rabu, 31 Agustus 2016

Lokakarya Sehari


Sesi penutup, menyebutkan kualitas nilai yang akan dihidupkan.


Dipandu oleh Ibu Rani A. Dewi (Lead Trainer LVE) dan Ibu Rifah Zainani (Trainer LVE)


Sesi sharing


Sesi Inspiring Movie


Sharing


PENGASUHAN ANAK BERBASISKAN NILAI-NILAI

“Memberi  kesempatan  anak  mengembangkan  nilai-nilai  dalam  diri  mereka,  berarti  kita  menyiapkan  mereka  melangkah  menuju  dunia  dengan  penuh  optimis”
(Living Values)


Dunia resah terhadap generasi muda dan masa depannya. Siapa yang bertanggungjawab?


Isu ini sudah menjadi masalah global. Mengapa?

§  Media semakin terbuka.
§  Kekerasan seksual pada anak.
§  Perdagangan anak.
§  Kekerasan atas nama agama.
§  Penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
§  Pendidikan yang menekankan  hanya pada  IQ.
§  Ekonomi terbuka berbasiskan industri.
§  Korupsi/ penyalahgunaan anggaran organisasi.
§  Kesuksesan  diukur  dari  materi, dan lain-lain.


Berangkat dari situasi tersebut di atas, Yayasan Indonesia Bahagia ingin mengadakan workshop dengan tema “Pengasuhan Anak Berbasiskan Nilai-Nilai” untuk para orangtua, praktisi pendidikan dan pekerja sosial yang bekerja di wilayah pengasuhan anak. Workshop ini memiliki tujuan untuk memperkenalkan suatu metode pengasuhan anak yang baru dalam membangkitkan Kesadaran Nilai pada Anak. Maka ikutilah lokakarya ini, mengingat isu-isu tersebut di atas. Dunia anak saat ini tampak genting.


Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Sabtu, 17 September 2016
Jam 09.00 – 16.00 wib
Tempat acara (diinfokan menyusul, disesuaikan dengan jumlah peserta yang mendaftar)


Fasilitator
Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A., aktif sebagai Senior International Accredited Trainer for Living Values Indonesia, Mindful Living Therapist, dan Marriage Therapist. Sebagian karya yang ditulisnya adalah buku “Menjadi Manusia Holistik” (2007), salah satu kontributor buku “Reinventing Indonesia” (2008), dan buku “9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak” (2015).


Donasi
Rp.900.000-,/1 hari (seminar kit, lunch, coffee break, tempat workshop yang nyaman). Bagi 10 pendaftar pertama, hanya dikenakan biaya Rp.750.000/ per-orang.


Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri, Acc: 1260005338610
a.n: Yayasan Indonesia Bahagia


Informasi penting untuk Anda, kalender program YIB


  • 29-30 September: Workshop Mindful Living “Komunikasi Welas Asih”
  • 5-6 November: Workshop Living Values For Couples
  • 3-4 Desember: Workshop Living Values For Teens



Informasi lebih lanjut & Pendaftaran
Nisa (0813.1979.3978)




Senin, 29 Agustus 2016








PELATIHAN
LIVING VALUES EDUCATION (LVE)
HAK ASASI MANUSIA DAN KEBEBASAN BERAGAMA
Retreat Mengelola Keragaman
Dengan Perspektif Living Values Education untuk Para Trainer LVE
Hotel Santika Premiere - Bintaro
Minggu - Kamis, 14 – 18 Agustus 2016



The Asia Foundation (TAF) memandang penting dilaksanakannya sebuah workshop peningkatan kapasitas bagi Program Officer (PO) dari berbagai Civil Society Organization (CSO) yang menjadi mitra Program Peduli dengan pendekatan Living Values Education (LVE) yang dikontekstualisasikan dengan kebutuhan Program Peduli. Program Peduli bertujuan meningkatkan inklusi warga dari kelompok minoritas korban diskriminasi. Beberapa kelompok minoritas dimaksud meliputi antara lain kelompok minoritas agama/ keyakinan (seperti Kristen, Ahmadiyah, dan Syiah), kelompok minoritas agama-agama lokal (seperti Bayan, Kaharingan, Merapu, Parmalin, Sedulur Sikep, Ugamo Batak), minoritas etnis (seperti Tionghoa), dan sebagainya.


Workshop difasilitasi oleh para pelatih (trainer) LVE dan dilaksanakan berbasis sebuah modul yang secara khusus dikembangkan dalam kerangka perubahan yang ingin dicapai melalui Program Peduli. Karena itu, setiap PO Program Peduli sangat penting memiliki keterampilan untuk menghidupkan nilai-nilai positif dalam dirinya, sehingga dapat menjadi teladan (role model) nilai-nilai inklusi bagi masyarakat di lokasi-lokasi program. Nilai-nilai inklusi tersebut antara lain ialah damai, cinta, penghargaan, toleransi, harmoni, dan sebagainya.


Workshop yang dilaksanakan ini adalah Train-of-Trainer Living Values Education (TOT LVE) Peduli dengan isu-isu hak asasi manusia yang kental. Adapun tujuannya untuk meningkatkan kapasitas PO dari CSO mitra Program Peduli dengan keterampilan menghidupkan nilai-nilai inklusi dan perspektif Hak Asasi Manusia (HAM), termasuk di dalamnya kemampuan memberi training LVE Peduli.


Selamat dan sukses!





Senin, 20 Juni 2016

MINDFUL LIVING
“BERDAMAI DENGAN DIRI”
Jumat-Sabtu, 12-13 Agustus 2016


Salam damai sahabat,

Di tengah derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diasumsikan mengakibatkan melunturnya nilai-nilai moral kemanusiaan, ditandai misalnya dengan maraknya berbagai kasus kekerasan. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sering berbeda pandangan hidup dan kebiasaan dengan orang lain, yang berpotensi timbulnya konflik dalam hubungan antar-pribadi bahkan antara suami-istri, orangtua-anak. Kehidupan modern yang serba mudah sering membuat manusia jenuh dan mempertanyakan tujuan-tujuan hidupnya.
 

Sesungguhnya hidup adalah “Anugerah Emas”, jika manusia dapat memaknainya dengan menjalani hidup berkesadaran Ilahi atau yang kami sebut Mindful Living. Lalu bagaimana menjalani hidup dengan Mindful? Tidak jarang langkah-langkah seseorang dipengaruhi oleh kecemasan, kekhawatiran, pikiran-pikiran negatif. Lalu bagaimana akibatnya terhadap kualitas hidup dan kesehatan Anda?


Untuk menjawabnya, kami mengajak Anda mengikuti Workshop selama 2 hari, untuk mengenal dan mengkaji lebih dalam tentang Mindful Living. Dalam workshop ini Anda akan terlibat dalam suasana “mengalami” (Experiential Learning) serta menemukan tools    pengendalian diri, dalam suasana yang interaktif dan menyenangkan. Buah dari pengalaman pribadi ini, Anda siap menjadi agen perubahan bagi lingkungan.


Testimoni dari peserta yang telah mengikuti
Workshop Mindful Living Therapy, a.l:

“Sungguh luar biasa sekali, saya sangat senang hari ini dapat mengenali core belief  saya, dan mempunyai solusi atau rules untuk merubah core belief  yang menurut saya mengganggu.”
(Agus H - Pengasuh Anak Yatim)

“Saya senang dapat mengenal berbagai macam (8) pola pikir terbatas. Saya dapat menganalisa kecemasan yang timbul dengan pola pikir tersebut sehingga dapat membantu saya agar tidak mudah cemas. Sangat bermanfaat, terima kasih”.
(Rina P. Dewi – Dokter)

“Saya menjadi sadar akan diri sendiri pada saat panic dan mengatasinya, sadar akan core belief yang berjalan dengan jalannya hidup saya dan sadar betapa pentingnya mengontrol kemarahan yang akan menjadikan damai hidup.”
(Agus T – Pengajar)


Workshop (Angkatan Ke-5)

TOPIK WORKSHOP:
1. MENGONTROL KEKHAWATIRAN (Worry Control)
2. MENGATASI PANIK (Coping with Panic)
3. MENGUJI KEYAKINAN UTAMA (Testing Core Beliefs)
4. MENGONTROL KEMARAHAN (Controlling Anger)
5. MINDFUL LIVING THERAPY - MEDITATION

Tempat:
Little Amaroossa Residence
Jl. Cipete Raya No.5 -Jakarta Selatan


FASILITATOR:
Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A., saat ini beliau aktif sebagai Lead Trainer Living Values Indonesia, Mindful Living Therapist, dan Marriage Therapist. Sebagian karya yang ditulisnya adalah buku “Menjadi Manusia Holistik” (2007), salah satu kontributor buku “Reinventing Indonesia” (2008), dan buku “9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak” (2015). Karyanya yang lain adalah membuat film dokumenter yang berjudul “Searching for I”, sebuah kisah perjalanan pencarian diri sejati dan kebahagiaan. Sangat berminat pada kajian Agama-agama & Spiritualitas. (www.raniadewi27.blogspot.com).


TARGET PESERTA:
Pendidik,  Guru,  Orang Tua,  Aktivis LSM,  Terapis/ Konselor,  Coach, dan siapa saja yang berminat.


DONASI:
Rp.1.500.000, / 2 Hari (Seminar Kit, Sertifikat, Buku “Menjadi Manusia Holistik”, Lunch, Coffee Break).


Biaya ditransfer ke rekening:
Bank Mandiri
Acc: 1260005338610
a.n: Yayasan Indonesia Bahagia


INFORMASI LEBIH LANJUT DAN PENDAFTARAN:
NISA (0813.1979.3978)


Pastikan Anda tidak tertinggal informasi dan kesempatan yang berharga ini. Peserta terbatas, maksimal 16 orang!



Senin, 09 Mei 2016

VALUES - BASED ENTREPRENEURSHIP

Dra. Rani A. Dewi, M.A *


Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih atas undangan ini yang mana  mengikutsertakan saya menjadi salah satu pembicara dalam Seminar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Islam FITK UIN Syarief Hidayatullah Ciputat, yang saya dengar dalam rangka Milad UIN. Saya ucapkan selamat Milad, semoga UIN terus exist dan berjaya serta ke depan dapat menghasilkan para Cendekiawan Muslim yang tidak saja ahli dalam ilmunya masing-masing secara Intelektual, namun juga dapat menjadi tokoh Islam yang Cerdas Emosi dan Bernilai Luhur.

Saya senang dengan tema Seminar ini yaitu: "Islamic Education Effect for Social Living and Student Entrepreneurship”, hal ini menurut pengamatan saya sebagai pendidik khususnya sebagai Trainer  Pendidikan Menghidupkan Nilai  (Living Values Education)  merupakan hal yang sangat urgent untuk tidak saja didiskusikan di dalam Seminar, tetapi yang lebih penting lagi adalah memikirkan sebuah metode yang efektif atau sebuah pendekatan yang holistik tentang bagaimana cara menghidupkan nilai-nilai seorang calon Entrepreneur. Sebab pada kenyataannya ada faktor yang sangat essential dalam masalah Entrepreneurship yang belakangan ini sudah terabaikan atau memang sengaja diabaikan, yakni faktor kesadaran nilai. Terjadi penyalahgunaan anggaran, meningkatnya tindakan/ perilaku korupsi. Ini semua disebabkan karena tidak dihidupkannya nilai-nilai dalam diri seseorang. Saya ingin mengutip apa yang dikatakan Mahatma Gandhi “This planet can provide human needs but not human greed”. Kesadaran nilai ini tidak semerta-merta bekerja dengan baik jika tidak ada “pemantiknya". Bagaimana memantiknya? Nah di sinilah perlunya Pendidikan Berbasiskan Nilai-Nilai yang di dalam masyarakat kita lebih dikenal dengan Pendidikan Karakter. Oleh karenanya sungguh bangga bahwa Mahasiswa UIN memikirkan masalah ini dan menjadikan tema Seminar kali ini.

Sekilas makna Entrepreneurship yang saya pahami, sederhananya Entrepreneurship adalah kemampuan nyata seorang individu yang berasal dari diri mereka sendiri di dalam maupun di luar organisasi, dimana individu itu berada untuk menemukan dan menciptakan peluang ekonomi baru. Siapa pun yang melakukan kegiatan yang berhubungan dengan Entrepreneurship disebut Entrepreneur. Entrepreneur diartikan sebagai seorang yang selalu membawa perubahan, innovasi, ide-ide baru, sumber daya baru, asset baru untuk perubahan. Dengan demikian seorang Entrepreneur dituntut memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang ilmu ekonomi dan ilmu sosial lainnya untuk mendukung upayanya agar berjalan dengan lancar dan sukses sesuai dengan target dan harapannya, baik secara personal maupun secara organisasi.

Biasanya istilah Entrepreneurship hanya dikenal di kalangan para penggiat ekonomi atau aktifitas perdagangan. Orang menyebutnya di dalam bahasa Inggris, Businessman. Namun belakangan istilah ini tidak saja digunakan di kalangan penggiat ekonomi, tetapi juga di kalangan penggiat CSR (Corporate Social Responsibility). Bahkan baru-baru ini saya saksikan tayangan di salah satu media televisi nasional tentang kegiatan yang mereka sebut Creativepreneur. Namun pada  kesempatan ini saya tidak dalam kapasitas untuk berbicara tentang  kegiatan Entrepreneur, tetapi lebih kepada kualitas seorang Entrepreneur dan kualitas yang perlu dikembangkan dalam Entrepreneurship.

Dalam latar belakang seminar ini disebutkan bahwa; tantangan dan peluang kiprah generasi muda dalam persaingan dunia menuntut peran pendidikan yang komprehensif. Penanaman nilai dalam peserta didik juga perlu dilengkapi dengan pelatihan khusus untuk memenuhi kebutuhan dalam menghadapi persaingan global. Dunia kewirausahaan (Entrepreneurship) menjadi sandingan yang serasi bagi Pendidikan Karakter. Entrepreneurship juga membutuhkan Leadership, yaitu kemampuan memimpin, terutama memimpin diri sendiri dan kemudian memimpin orang lain dalam berbagai kegiatan yang digelutinya.

Dalam hal memimpin dirinya seorang yang berjiwa leadership tidak menunggu dilayani, tidak menunggu diperhatikan, tidak menunggu pemberian orang lain. Artinya dia seorang yang selalu mengatakan "saya bisa” memenuhi kebutuhannya sendiri, terutama kebutuhan dasarnya. Bahkan dia tidak menyerah menghadapi tantangan untuk suatu perubahan jika membawanya ke arah yang lebih baik. Oleh karenanya seorang yang memiliki Leadership biasanya mampu menjalani Entrepreneurship pula. Tetapi apakah pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi menyiapkan peserta didik menjadi seorang Entrepreneur? Pendidikan kerap rancu dengan pengajaran.

Pendidikan adalah pelajaran yang didapat dari pengalaman hidup yang terus berlangsung hingga ajal tiba (Jane Goodall). Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, dimana seorang manusia belajar untuk mengetahui, belajar untuk mengerjakan, belajar untuk menjadi dan belajar untuk hidup bersama orang lain secara harmonis. Ini empat pilar prinsip dalam Living Values Education (Tillman, 2004). Ini sejalan dengan karakter yang harus dipenuhi dalam mengembangkan jiwa Entrepreneurship.

Berkaitan dengan LVE, dalam konteks Entrepreneurship, seseorang dibimbing untuk memiliki kesadaran nilai. LVE percaya bahwa setiap orang sudah membawa nilai-nilai luhur di dalam dirinya dari sejak lahir, tinggal dihidupkan saja. Lingkungan pertama yang bertugas menghidupkannya adalah keluarga, dalam hal ini adalah orangtua sebagai pendidik pertama dan utama, setelah itu barulah sekolah, atau pendidikan formal. Nilai-nilai itu akan hidup dalam suasana berbasiskan nilai-nilai. Ketika lingkungan berbasiskan nilai-nilai itu hidup subur, maka setiap orang akan terdorong untuk berprestasi dan berperilaku positif. Mengapa? Sebab lima kebutuhan emosi dasarnya terpenuhi, yakni kebutuhan untuk dihargai, kebutuhan untuk dipahami, kebutuhan untuk dicintai, kebutuhan rasa aman, dan kebutuhan untuk bernilai (Tillman, 2004).

Kembali di awal tadi saya mengatakan bahwa aspek kesadaran nilai sangat penting dalam Entrepreneurship, maka saya ingin menyampaikan konsep Values Based Entrepreneurship. Yakni Entrepreneurship yang berorientasikan untuk menghidupkan nilai-nilai, yang dalam hal ini sedikitnya ada lima nilai yang penting bahkan urgent untuk dihidupkan, yaitu nilai Kejujuran, nilai Tanggungjawab,  nilai Kebebasan, nilai Cinta Kasih dan nilai Rendah Hati. Nilai kejujuran kepada diri sendiri dan orang lain akan melahirkan kesejahteraan bagi orang banyak. Nilai tanggungjawab akan melahirkan keberlangsungan hajat hidup orang banyak, dan nilai kebebasan akan melahirkan daya juang untuk terus berkarya secara kreatif dan karenanya mampu  menciptakan pekerjaan bagi dirinya serta peluang bagi orang lain, nilai cinta kasih akan melahirkan sikap empati, sehingga tidak akan mengambil yang bukan haknya, terakhir adalah nilai rendah hati yang akan melahirkan sikap bersyukur dan tidak menonjolkan dirinya dengan merugikan orang lain. 

Nilai-nilai inilah yang sekarang ini mengalami krisis, terabaikan atau bahkan diabaikan. Terakhir sebagai penutup, dengan pemikiran Values Based Entrepreneurship kita Insya Allah dapat secara optimis menyiapkan generasi muda kita khususnya Mahasiswa UIN untuk tidak semata-mata menghadapi persaingan global yang kian menguat. Tetapi sesungguhnya yang lebih penting lagi adalah membangun perekonomian di negeri ini dengan lebih baik yaitu yang berpihak pada rakyat kecil dan untuk memajukan bangsa serta kebahagiaan rakyat secara keseluruhan. Namun tentu saja hal ini tidak seperti membalikkan telapak tangan. Kita perlu berjuang dengan bersungguh-sungguh dan consistent/ istiqomah. Melalui  Living Values Education for Developing Entrepreneurship, sebagai metode menemukan pemantik untuk membangkitkan kesadaran nilai. Insya Allah harapan ini dapat terwujud. Amin.


Jakarta, 9 Mei 2016
UIN Syarief Hidayatullah, Ciputat



*Living Values Education Trainer
Couples/ Marriage Therapist
Lecturer




Sumber:
Tillman, Dianne & Pillar Quera Colomina. Living Values An Educational Program Educator Training Guide: Panduan Pelatihan Bagi Pendidik. Jakarta: Grasindo, 2004.